Pembebasan

Tidak ada niatan untuk keluar nonton konser minggu malam kemarin. Berita konser yang saya lihat di akun twitter salah satu vokalis band indie metal Jakarta lah yang membuat saya tau, bahwa nanti malam mereka akan konser bersama beberapa band lain yang juga se-aliran. Mana lokasi konsernya deket banget sama rumah. Kalo udah gini mah ada temen atau nggak ada temen harus tetep berangkat.

Konser di mulai sebenarnya sudah dari sore hari. Tapi band incaran saya baru mulai selepas maghrib. Jam setengah tujuh saya sudah sampai di lokasi konser. Kemungkinan nanti saya nggak sendiri, karena teman SMA saya si bayu katanya mau datang juga.

Begitu sampai di parkiran gandaria city sudah mulai terdengar raungan gitar dari The Sigit. Pas banget.

Di gerbang masuk tempat konser ada beberapa pemeriksaan dari pihak keamanan konser, kartu identitas dan isi tas. Untuk yang membawa rokok selain merk sponsor,dengan sangat terpaksa rokok harus ditinggal di luar. Ini sih yang jadi petugas pengamanan menang banyak. Soalnya saya liat banyak banget yang ninggal rokoknya di luar. Untuk ukuran event gratisan ini pengamanannya lumayan ketat.

Sesudah masuk, Saya langsung maju ke arah panggung untuk melihat aksi The Sigit lebih dekat. Permainan The Sigit tetap luar biasa. Dorong dorongan kecil ala kapal oleng mulai keliatan di tengah, tanda malam mulai panas.

Temen saya Bayu datang ketika The Sigit selesai. Setelah minta sebat dulu buat ngatur nafas, kita balik maju lagi ke depan panggung. Seringai mulai masuk di awali dengan gebukan drum kang Khemod. Gabungan suara yang keluar dari sound system dan permainan lampu sorot panggung membuat saya merinding. Magis. Sudah lama banget saya nggak merasakan sensasi seperti ini.

Dan, kerumunan pun mulai pecah ketika Arian mulai masuk dan langsung menggeber suara sekencang kencangnya. Saya yang awalnya cuma manggut mangut sekarang sudah lompat ke sana kemari sambil memutar mutar badan. Dengan gerakan dan kerumunan massa sebanyak ini sentuhan dan tabrakan antara badan penonton sudah tidak mungkin untuk dihindari. Larut bersama musik dan melepaskan lolongan lolongan manusia yang jika orang awam melihat kita akan seperti orang jaman batu yang sedang melakukan tarian perang adalah kenikmatan yang sudah lama tidak saya rasakan.

Selepas Seringai, agresifitas panggung dilanjutkan oleh band metal yang  terhitung baru di dunia musik indie Indonesia. Kelompok penerbang roket. Beat beat dari drummer dan raungan gitar mereka mampu membuat penonton untuk tidak menurunkan tempo gerakan moshing mereka. Semua terlihat lepas semua terlihat bahagia.

Ini adalah cara menikmati musik metal secara jasmani dan rohani, menikmati musik metal yang di gas pol sedalam dalamnya tanpa memikirkan untuk menginjak rem. Dari luar mungkin terlihat menakutkan, tapi percayalah, ini adalah arena pembebasan diri. Pembebasan emosi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s