PHILOCOFFEE

“Mau pesen apa mas?”

“Yang enak kopi yang mana ya mas kira – kira?”

“Enak yang bagaimana dulu nih mas?”

Bentar – bentar, saya kok nggak siap di suruh njawab pertanyaan balik model begini. Harapan awal saya tadi kan pengen dapet rekomendasi kopi yang akan saya minum, yang enak tentunya. Tapi ternyata etimologi “enak” tidak se simpel yang saya bayangkan.



Dari depan toko, kita tidak akan menyangka bahwa sebenarnya bangunan ini adalah toko kopi sekaligus rumah sangrai kopi. Pada waktu pertama kali ke sini pun saya sempat bolak balik di depan toko, kebingungan, karena dari depan hanya terlihat seperti rumah biasa, tidak nampak ada papan nama toko sebagai penanda bahwa ini adalah toko kopi.

Tempat ini mulanya hanya menyediakan peralatan yang berhubungan dengan dunia per-kopi-an. Dalam perkembangannya kemudian Philo menyediakan bar kecil agar pengunjung bisa memesan kopi seduh dengan metode manual (tanpa mesin), sembari berbelanja peralatan kopi. Seingat saya, saya pertama kali ke sini untuk mencari grinder kopi, supaya kopi yang saya minum fresh, karena kopi dalam bentuk bubuk lebih cepat berkurang kualitasnya daripada kopi dalam bentuk biji. Grinder awal saya hanya bertahan beberapa bulan saja. Bahan yang terbuat dari plastik kemungkinan tidak cocok dengan saya yang suka bikin kopi grasak grusuk.

Masuk ke dalamnya kita akan langsung disuguhi rak rak yang berisi peralatan kopi. Di sisi lain terdapat set meja bar yang siap memanjakan pengunjung yang penasaran dengan kopi hasil sangrai dari Philo. Di samping kopi dan peralatannya, terdapat pula rak buku yang berisi sederet buku dari berbagai macam genre. Tak melulu soal kopi, genre filsafat dan novel pun juga ada. Bebas untuk dibaca pengunjung di tempat sambil menyeruput kopi pesanan.

Bagian taman belakang pun juga asik sebagai tempat menikmati sore. Untuk pengunjung yang merasa rokok adalah pasangan sejati kopi, tak ada larangan untuk menikmatinya di taman ini.

2017_0516_17402600

Penjualan kopi di sini disediakan dalam dua bentuk, biji kopi beras dan biji kopi yang sudah disangrai. Koleksi biji kopinya pun beragam. Sebagian besar jenisnya tersedia pula di bar agar pengunjung bisa mencicip seduhan biji kopi di tempat. Kantung – kantung kopi yang dijual disini tidak memuat keterangan tasting notes yang biasa kita lihat jika kita membeli biji kopi di roaster – roaster lain.

Contoh kemasan kopi beserta keterangan biji kopinya

Awalnya ketika saya pertama kali membeli biji kopi di sini karena penasaran tidak mendapat clue dari kemasan kopi kopi yang dipajang di rak maka saya pun bertanya dahulu kepada Mas Dian (manajer Philo) yang kebetulan sedang berada di bar yang bertugas untuk menyeduh kopi. Tapi harapan saya mendapat rekomendasi kopi enak sepertinya tidak berjalan mulus. Ha di bales sama pertanyaan juga e. Kan malah soyo ruwet. Ki opo meneh… pikir saya waktu itu. Dan akhirnya saya main tunjuk aja. Hehehe. Tapi hasil akhirnya enak kok (menurut saya lho ya..), cocok dengan saya.

Setelah sekian lama bolak balik berkunjung ke sini saya jadi paham, bahwa kata enak adalah relatif. Setiap orang mempunyai standar enak masing – masing. Yang pastinya kita tidak bisa paksakan standar enak kita ke orang lain. Ini sedikit membuka mata saya yang biasa nya sok sok an menghakimi penikmat kopi sachet. 😋

Jadi bagi yang ingin insyaf menghakimi penikmat kopi lain, ingin mencoba biji kopi nusantara, dan menambah pengetahuan di dunia kopi, silahkan datang ke Philo.

Advertisements

One thought on “PHILOCOFFEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s